Desa Dasun

Kec. Lasem, Kab. Rembang
Prov. Jawa Tengah

Loading

Info
Laman Resmi Pemerintah Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Sekretariat: Balai Desa Dasun, RT.01,RW.01, Dasun, Lasem, Kode Pos: 59271 | Dasun Maju | Desa Pemajuan Kebudayaan Kemendibud | Desa Anti Korupsi KPK RI

Berita Desa

dasun-rembang.desa.id- Dasun, Lasem - Pagi belum terlalu tinggi ketika suara barongan mulai bergerak menyusuri desa. Bunyi gamelan dan riuh warga perlahan memenuhi jalan-jalan Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jateng. Minggu, 16 Agustus 2026 itu, kampung pesisir tersebut kembali memasuki hari yang selalu dinanti: Sedekah Laut.

Di Dasun, laut bukan sekadar hamparan air di utara desa. Laut adalah halaman depan. Tempat orang-orang berangkat mencari penghidupan, tempat perahu-perahu pulang membawa hasil tangkapan, sekaligus ruang tempat pengetahuan tentang angin, musim, arus dan air diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, ketika masyarakat Dasun menggelar sedekah laut, yang berlangsung bukan sekadar sebuah upacara tahunan. Ada ingatan panjang tentang hubungan manusia dengan laut yang sedang dipanggungkan kembali.

Sekitar pukul 08.00 WIB, barongan berkeliling kampung. Satu jam kemudian, suasana semakin ramai. Sebuah rumah-rumahan yang berisi sesaji utama berupa kepala kambing dan aneka jajan pasar mulai diarak menuju muara Sungai Dasun.

Di belakangnya, warga mengikuti dengan langkah perlahan. Arak-arakan itu akhirnya berhenti di muara. Di tempat sungai bertemu laut itulah sebuah brokohan atau bancaan digelar. Masyarakat berkumpul, makan bersama, dan mengirim doa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang mereka kenang sebagai Mbah Suto dan Mbah Moro.

Muara menjadi ruang pertemuan. Sungai yang datang dari daratan bertemu laut yang terbuka luas. Begitu pula manusia yang datang membawa ingatan, do’a dan harapan.

Setelah brokohan selesai, sesaji dinaikkan ke atas perahu. Perahu pembawa sesaji kemudian bergerak menuju laut. Di belakangnya, puluhan perahu nelayan mengikuti. Sekitar 40 perahu nelayan Dasun ikut dalam prosesi tersebut. Tidak semuanya membawa orang Dasun. Sejumlah nelayan dari Desa Tasiksono juga turut serta.

Hal itu bukan sesuatu yang asing. Dasun sejak lama merupakan salah satu ruang penting bagi aktivitas nelayan di kawasan tersebut. Sungai Dasun menjadi tempat perahu-perahu bersandar. Bahkan nelayan dari desa lain menjadikan kawasan sungai ini sebagai tempat yang nyaman untuk menambatkan perahunya.

Maka sedekah laut di Dasun secara alami tidak pernah benar-benar menjadi milik satu desa saja. Ia menjadi peristiwa bersama masyarakat pesisir Lasem.

Perahu-perahu terus bergerak menuju Pulau Gosong. Di tengah laut, sesaji kemudian dilarung. Tidak ada kemewahan yang hendak dipamerkan dari prosesi itu. Yang ada adalah sebuah pesan sederhana: manusia menerima kehidupan dari alam, dan karena itu manusia mesti tahu cara berterima kasih kepada Tuhan atas segala yang diberikan melalui alam ciptaan-Nya.

Bagi masyarakat nelayan, laut bisa memberikan ikan, rajungan, cumi, udang dan berbagai hasil lainnya. Tetapi laut juga mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu mudah. Ada musim ikan, ada paceklik. Ada laut tenang, ada gelombang besar. Ada waktu ketika perahu pulang dengan hasil melimpah, ada pula saat nelayan pulang hampir tanpa membawa apa-apa. Sedekah laut menjadi semacam jeda untuk mengingat semuanya.

Dari Muara, Menuju Pulau Gosong

Setelah sesaji dilarung, rombongan perahu menuju dan bersandar di Pulau Gosong. Di sinilah wajah lain dari sedekah laut Dasun terlihat.

Ribuan orang datang. Pulau Gosong yang pada hari biasa menjadi bagian dari bentang alam pesisir mendadak berubah menjadi ruang perjumpaan. Anak-anak, orang tua, nelayan, keluarga dan pengunjung bercampur menjadi satu. Mereka bermain air dan mandi bersama, menikmati laut yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Dasun.

Sedekah laut akhirnya bukan hanya ritual. Ia menjadi hari ketika seluruh Masyarakat desa pergi ke laut. Di sana, batas antara nelayan dan bukan nelayan menjadi kabur. Laut menjadi ruang bersama.

Tradisi semacam ini sebenarnya bukan hal baru bagi Dasun. Catatan tentang sedekah laut Dasun menunjukkan bahwa tradisi lomban atau sedekah laut telah lama melibatkan puluhan perahu, termasuk perahu dari desa-desa lain. Prosesi menuju Pulau Gosong juga telah menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat setempat.

Desa yang Hidup dari Air

Untuk memahami mengapa sedekah laut begitu kuat di Dasun, Lasem, Rembang, kita harus melihat desa ini bukan hanya sebagai sebuah wilayah administratif.

Dasun adalah desa yang kehidupannya sejak lama dibentuk oleh air. Di sebelah utara terbentang Laut Jawa. Di sisi lain terdapat Sungai Dasun. Di daratan, hamparan tambak menjadi ruang produksi garam dan budidaya bandeng.

Kajian tentang Pranata Banyu bahkan menggambarkan Desa Dasun sebagai desa dengan karakter geografis yang sangat khas: laut di utara dan muara Sungai Dasun di sisi barat. Kehidupan masyarakatnya kemudian tumbuh dari laut, sungai dan tambak.

Itulah sebabnya kebudayaan Dasun tidak dapat dipisahkan dari air. Nelayan membaca angin. Petani garam membaca matahari. Petambak membaca air. Masyarakat membaca musim. Semua dilakukan dengan pengetahuan yang diwariskan dan dipraktikkan secara turun-temurun. Pengetahuan itulah yang kemudian dikenal sebagai Pranata Banyu.

Bukan sekadar kalender musim, Pranata Banyu merupakan pengetahuan masyarakat pesisir dalam membaca tanda-tanda alam—mulai dari arah angin, perilaku hewan dan tumbuhan, posisi matahari dan bintang, hingga perubahan air dan musim. Pengetahuan tersebut digunakan untuk menentukan waktu melaut, mengelola tambak garam maupun membudidayakan ikan.

Dengan kata lain, sebelum istilah climate knowledge, local wisdom, atau traditional ecological knowledge menjadi istilah yang populer, masyarakat Dasun telah memiliki cara sendiri untuk membaca alam. Mereka menyebutnya Pranata Banyu.

Sedekah Laut sebagai Kebudayaan yang Masih Bernapas

Di sinilah Sedekah Laut Dasun menjadi menarik. Tradisi tersebut tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu yang hanya dipertontonkan setahun sekali. Ia masih dijalankan. Masih ada barongan. Masih ada arak-arakan. Masih ada brokohan. Masih ada perahu yang berangkat bersama. Masih ada sesaji yang dilarung. Dan masih ada ribuan orang yang datang ke Pulau Gosong.

Artinya, kebudayaan itu masih memiliki masyarakat pendukung. Hal tersebut menjadi penting karena Dasun memang sedang menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan desanya.

Pada 2021, Dasun mendapatkan predikat Desa Pemajuan Kebudayaan. Pada akhir 2022, desa ini masuk 10 besar Desa Budaya Nasional. Puncaknya, pada 2024, Dasun memperoleh Apresiasi Desa Budaya 2024 dari Kementerian Kebudayaan. Penghargaan itu bukan muncul tiba-tiba.

Dasun dinilai memiliki berbagai kekuatan kebudayaan: situs sejarah, festival bermuatan lokal, pengetahuan tradisional dalam pengelolaan garam dan bandeng, serta upaya mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan melalui buku.

Namun, penghargaan tentu bukan tujuan akhir. Justru tantangan terbesar setelah sebuah desa mendapatkan predikat budaya adalah membuktikan bahwa kebudayaan itu tetap hidup setelah seremoni penghargaan selesai. Sedekah laut 16 Agustus 2026 menjadi salah satu jawabannya.

Dari Tradisi ke Buku

Ada satu hal menarik dalam perjalanan kebudayaan Dasun beberapa tahun terakhir. Desa ini tidak hanya berusaha melakukan kebudayaan, tetapi juga mulai menuliskannya. Salah satu upayanya adalah buku Pranata Banyu yang ditulis oleh Angga Hermansah.

Angga bukan orang yang berdiri jauh dari kehidupan pesisir. Ia tumbuh di lingkungan masyarakat Dasun dan terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan kebudayaan serta kehidupan agraris-maritim desa.

Buku tersebut menjadi usaha untuk merekam pengetahuan yang selama ini hidup melalui praktik sehari-hari masyarakat. Sebab ada kekhawatiran yang sangat sederhana: pengetahuan yang hanya disimpan dalam ingatan manusia bisa hilang ketika orang-orang yang memilikinya pergi.

Maka pengetahuan tentang air perlu ditulis. Pengetahuan tentang musim perlu dicatat. Cerita tentang nelayan perlu didokumentasikan. Begitu pula cerita tentang sedekah laut.

Dengan demikian, ketika generasi berikutnya bertanya mengapa orang-orang Dasun pergi ke laut setiap tahun, jawabannya tidak berhenti pada kalimat, “karena itu tradisi dari dulu.”

Mereka dapat menemukan cerita yang lebih panjang. Tentang leluhur. Tentang laut. Tentang mata pencaharian. Tentang rasa syukur. Tentang pengetahuan membaca alam. Dan tentang bagaimana sebuah masyarakat pesisir membangun hubungan dengan ruang hidupnya.

Open House dan Filosofi Banyak Tamu, Banyak Rezeki

Sedekah laut Dasun juga tidak berdiri sendiri. Tradisi tersebut biasanya berkelindan dengan sedekah bumi, perayaan desa dan pertunjukan ketoprak. Warga Dasun membuka rumah mereka untuk menerima tamu. Makan bersama menjadi bagian penting dari suasana.

Ada semacam keyakinan sosial yang hidup di tengah masyarakat: semakin banyak tamu datang, semakin banyak pula rezeki yang diharapkan datang kepada keluarga dan desa.

Karena itu, open house bukan sekadar menjamu orang. Ia adalah cara masyarakat merawat hubungan. Tetangga datang. Saudara datang. Teman dari desa lain datang. Orang yang pernah bekerja atau beraktivitas di Dasun datang. Semua duduk bersama. Makan bersama. Bercakap-cakap.

Dalam kehidupan desa, mungkin di situlah sebenarnya inti dari sedekah. Bukan hanya sesuatu yang dilarung ke laut, melainkan juga sesuatu yang dibagikan kepada sesama.

Laut Tidak Pernah Hanya tentang Ikan

Ketika puluhan perahu nelayan Dasun bergerak menuju Pulau Gosong pada 16 Agustus lalu, yang terlihat dari kejauhan mungkin hanyalah sebuah iring-iringan perahu. Namun jika dilihat lebih dekat, di dalamnya terdapat cerita yang jauh lebih panjang.

Ada nelayan yang menggantungkan hidup kepada laut. Ada keluarga yang menunggu perahu pulang. Ada anak-anak yang tumbuh dengan suara mesin perahu. Ada petani garam yang menunggu matahari dan angin. Ada petambak yang membaca perubahan air. Ada orang-orang tua yang menyimpan cerita tentang leluhur. Ada anak muda yang mencoba menuliskan kembali pengetahuan itu dalam buku. Dan ada sebuah desa yang sedang berusaha memastikan bahwa semua itu tidak hilang.

Desa Dasun menunjukkan bahwa pemajuan kebudayaan tidak selalu harus dimulai dari panggung besar. Kadang ia dimulai dari muara sungai. Dari sebuah barongan yang berjalan mengelilingi kampung. Dari kepala kambing yang diarak dalam rumah-rumahan. Dari bancaan sederhana. Dari puluhan perahu yang bergerak perlahan menuju laut. Dari sesaji yang dilarung. Dan dari ribuan manusia yang kemudian berkumpul di Pulau Gosong. Di tempat itu, masyarakat Dasun seolah kembali mengingat satu hal yang paling mendasar: bahwa mereka hidup karena alam, dan karena itu alam harus dihormati. 

Sedekah laut bukanlah perayaan tentang menaklukkan laut. Sebaliknya, ia adalah pengakuan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya berkuasa atas laut. Manusia hanya bisa membaca tanda-tandanya, menjaganya, mengambil secukupnya, lalu bersyukur ketika laut memberikan rezeki.

Dan mungkin, justru di situlah kekuatan kebudayaan Dasun. Kebudayaan tidak disimpan di museum. Ia masih berjalan di jalan kampung. Ia masih mengapung di atas perahu. Ia masih hidup di muara. Ia masih dibicarakan di rumah-rumah warga. Ia masih ditulis dalam buku.

Dan setiap Agustus, ketika barongan kembali berjalan dan puluhan perahu kembali menuju Pulau Gosong, Desa Dasun kembali mengingatkan dirinya sendiri: laut bukan sekadar tempat mencari rezeki. Laut adalah bagian dari kehidupan, ingatan, dan kebudayaan mereka.

Exsan Ali Setyonugroho

Beri Komentar

Layanan
Mandiri

Hubungi Pemerintah Desa untuk mendapatkan PIN

Pemerintah Desa

Kepala Desa

SUJARWO

PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd

PEMDES DASUN

SUYOTO

PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag

PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA

PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd

PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE

PEMDES DASUN
Statistik Pengunjung
Hari ini : 311
Kemarin : 186
Total Pengunjung : 1.183.667
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.55
Browser : Mozilla 5.0
Statistik Pengunjung
Hari ini : 311
Kemarin : 186
Total Pengunjung : 1.183.667
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.55
Browser : Mozilla 5.0

Kabar Rembang

Pemerintah Desa

SUJARWO

Kepala Desa


PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd


PEMDES DASUN

SUYOTO


PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag


PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA


PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd


PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE


PEMDES DASUN